TIM KEDAI REKA UTU MELAKUKAN PENERAPAN INOVAS PMT IBU HAMIL DAN BADUTA BERBASIS PANGAN LOKAL
  • Prodi Gizi
  • 30. 12. 2022
  • 0
  • 670

Aceh Barat merupakan salah satu kabupaten lokus stunting di provinsi Aceh. Hasil SSGI (Studi Status Gizi Indonesia) pada tahun 2021 menunjukkan penurunan prevalensi stunting di kabupaten Aceh Barat menjadi 27,4 %, akan tetapi angka ini masih diatas angka toleransi prevalensi stunting yang ditetapkan WHO sebesar 20 % dan angka ini masih jauh dari target SDGs dimana diharapkan prevalensi stunting pada tahun 2030 turun menjadi 14%. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah daerah adalah optimalisasi peran Posyandu dan Rumoh Gampong pada tingkat desa. Akan tetapi makanan tambahan yang yang di berikan di posyandu dan rumoh gampong kurang bervariasi dan menu yang disiapkan belum melalui proses penelitian yang berarti, dikhawatirkan menu makanan tambahan yang disiapkan untuk balita tidak mampu memperbaiki status gizi mereka. apabila benar demikian maka biaya yang dikeluarkan untuk program pemberian makanan tambahan akan sia-sia. Besarnya dana yang dialokasikan untuk penanggulangan stunting tidak mampu memperbaiki status gizi anak.

Menjawab permasalahan tersebut, UTU dan Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat  bekerjasama dalam program Maching Fund Kedaireka tahun 2022 ini melakukan penerapan inovasi produk olahan pangan lokal dalam bentuk Naget dan Mie berbasis Kelor (Moringa oleifera) dan ikan lumi-lumi (Harpadon Nehereus) yang merupakan pangan lokal yang mudah dan murah di peroleh di wilayah kabupaten Aceh Barat. Menurut banyak penelitian, daun kelor kaya akan protein dan mikronutrien diantaranya mengandung 10 kali lipat vitamin A dibandingkan wortel, mengandung kalsium 17 kali lebih banyak dibandingkan dengan susu dan 9 kali lipat protein pada yoghurt serta mengandung karotenoid yang lebih banyak dibandingkan dengan jeruk, wortel dan melon. Sedangkan ikan Ikan lumi-lumi (Harpadon nehereus) merupakan ikan endemik perairan wilayah kabupaten Aceh Barat. Ikan ini biasa di konsumsi masyarakat karena rasanya yang enak dan harga yang relatif murah dibandingkan ikan jenis lain. Ikan ini memiliki nilai gizi yang tinggi dimana tiap 100 mg ikan mengandung  70% protein dan 1500–2500 mg kalsium.  

Produk makanan tambahan berbasis kelor dan ikan lumi-lumi ini yang telah melalui uji laboratorium pada program maching fund tahun 2021 lalu, untuk tahun 2022 ini, program fokus pada pendampingan pengolahan makanan tambahan pada ibu hamil dan ibu baduta yang beresiko stunting serta intervensi produk pada 60 orang sasaran program yang terdiri dari ibu hamil KEK dan baduta beresiko stunting di 3 desa di kecamatan Kaway XVI yaitu desa Pungki, Tanjong Bungong dan desa Puuk. Pemberian produk makanan tambahan dilakukan selama 4 bulan mulai dari bulan September sampai dengan Desember 2022. Sebelum dan setelah pemberian makanan tambahan dilakukan pengukuran antropometri ibu hamil dan baduta. Hasil akhir program menunjukkan bahwa pemberian makanan tanbahan berbasis kelor dan ikan lumi-lumi berpengaruh positif terhadap perbaikan status gizi mereka.

Salah satu anggota tim kedaireka UTU Enda Silvia Putri, SKM, M.Kes menjelaskan bahwa wilayah kabupaten Aceh Barat memiliki banyak sekali potensi pangan lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kekurangan gizi pada 1000 HPK dalam upaya mencegah stunting. Selanjutnya perlu adanya sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam upaya pengembangan produk intervensi. “Produk makanan tambahan yang telah kami hasilkan diharapkan dapat menjadi alternatif menu yang diberikan di posyandu dan rumoh gampong” tambahnya.

Lainnya :