Pesan Moral Dibalik Seragam Sekolah Maba UTU Saat Mengikuti SIMBA 2022
  • UTU News
  • 19. 08. 2022
  • 0
  • 729

MEULABOH - UTU | Dalam dua hari terakhir ini, ada suasana berbeda di Universitas Teuku Umar. Terlihat ribuan siswa-siswi setingkat SMA/SMK/MA dari berbagai penjuru negeri  dengan memakai pakaian sekolah asalnya masing-masing memadati kampus UTU. Pemandangan langka ini menyita perhatian civitas akademika dan publik pun bertanya-tanya. Apa yang sedang dilakukan ribuan siswa/i tersebut di kampus UTU?

Mereka bukanlah siswa/i yang sedang studi banding ke UTU, akan tetapi mereka adalah mahasiswa/i baru UTU Angkatan 2022 yang sedang mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) atau dalam istilah UTU adalah Silaturrahmi Mahasiswa Baru (SIMBA). Para maba ini akan mengikuti kegiatan SIMBA selama tiga hari yaitu mulai Kamis (18/8/22) hingga Sabtu (20/8/22).

UTU melakukan terobosan penting dengan membuat kebijakan penyelenggaraan PKKMB atau SIMBA dengan memakai pakaian sekolah. Hal ini sebagai upaya memutus mata rantai tindakan foya-foya (baca. Coretan baju sekolah) untuk merayakan kelulusan sekolah untuk tingkatan SMA sederajat.

Rektor Universitas Teuku Umar, Dr. Drs. Ishak Hasan, M.Si saat ditemui Humas UTU menyampaikan bahwa kebijakan terkait pemakaian baju seragam sekolah bagi mahasiswa baru UTU saat mengikuti kegiatan SIMBA sudah dilakukan pihak UTU dalam tiga tahun terakhir. "Ini satu langkah kecil yang dilakukan oleh UTU yang diharapkan menjadi kebiasaan positif kedepannya, sebagai bentuk kampanye kesadaran anti coretan baju sekolah pasca kelulusan SMA," kata Dr. Ishak Hasan

Lanjutnya, setelah mengikuti rangkaian kegiatan SIMBA, para mahasiswa baru tersebut nantinya kita anjurkan untuk menyerahkan/mendonasikan seragam sekolah (layak pakai) tersebut kepada anak-anak sekolah yang membutuhkan. "Itu lebih positif dan bermanfaat, juga sebagai bentuk aksi sosial dari mahasiswa UTU," jelas Dr. Ishak Hasan

Rektor juga mengungkapkan, pelajaran penting lainnya dari pemakaian seragam sekolah setingkat SMA yang umumnya berwarna abu-abu yang menggambarkan kedewasaan. Hal ini menjelaskan bahwa mereka harus sudah memiliki sifat yang lebih dewasa dari tingkatan sebelumnya.

Di masa transisi ini, jelasnya kita perkenalkan kehidupan kampus kepada mereka, dimana sebelumnya dengan seragam abu-abu sudah diajarkan nilai-nilai kedewasaan yang melingkupi berbagai aspek, mulai dari kedewasaan berpikir, kedewasaan dalam perbuatan dan lain sebagainya. "Ketika memulai pembelajaran kedepan sebagai mahasiswa, tentu mereka dituntut untuk lebih dewasa dalam berfikir dan bertindak," harap Rektor Ishak Hasan.

"Dengan bebagai kustum seragam sekolah juga bisa menampakkan keberagaman yang memang dijunjung tinggi UTU sebagai kampus yg menghargai keberagaman baik suku, ras, agama dan kelas sosial. UTU saat ini telah menjadi kampus untuk anak muda Indonesia dari Sabang Merauke," pungkas Rektor Ishak Hasan.

Tanggapan positif terhadap kebijakan UTU tersebut juga disampaikan sejumlah tokoh masyarakat di Aceh Barat. Said Mardha, salah seorang tokoh pendidikan di Aceh Barat memberikan apresiasi atas kebijakan UTU terkait pemakaian seragam sekolah saat mengikuti kegiatan silaturrahmi. "Baiknya selesai kegiatan SIMBA, baju yang layak pakai dikumpulkan lalu disalurkan kepada kaum dhuafa atau yang membutuhkan," Saran Said Mardha yang disampaikan melalui Comment Facebook Humas UTU.  (Aduwina Pakeh / Humas UTU).

Komentar :

Lainnya :