Dosen Berdiskusi Tentang ‘Fiksi Perspektif Komunikasi’ Dalam Webinar Nasional
  • UTU News
  • 01. 07. 2022
  • 0
  • 721

MEULABOH, UTU – Para Dosen Program Studi (Studi) Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Teuku Umar (FISIP-UTU), berdiskusi dan membahas terkait dengan materi fiksi dalam perspektif komunikasi dalam agenda webinar, pada 30 Juni 2022 secara virtual.

Webinar nasional yang bertajuk “Fiksi Dalam Perspektif Komunikasi” dan peluncuran buku, “Pada Suatu Musim Semi”, diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran Unpad). Pesertanya adalah para dosen dan mahasiswa ilmu komunikasi secara nasional, pecinta ilmu komunikasi dan masyarakat umum.

Pembicara dalam webinar tersebut adalah Prof. Deddy Mulyana, MA.,Ph.D, Dr. Aam Amiruddin, M. Si, Dr. Septiawan Sentana, M.Si, dan Maimon Herawati, S. Sos.,M. Litt.  Host adalah Preciousa Alnashava J, S.I. Kom.,M. Si. Webinar ini diadakan dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-62, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

Terkait dengan bahasan Fiksi Dalam Perspektif Komunikasi, Ave Rosa A. Djalil, salah seorang wartawan berpengaruh di tanah air, melalui pemaparannya dilaman avesiar.com antara lain menyampaikan tentang buku “Pada Suatu Musim Semi”  dengan judul : ‘Pelanggaran’ Manis Prof Deddy Mulyana. Profesor yang maestro di dunia komunikasi Indonesia ini seperti ‘memaksa’ diri Ave untuk mengomentari salah satu buku barunya. Dirinya, bagaikan murid, di hadapan guru besar fakultas komunikasi Universitas Padjajaran Bandung 2008 – 2016, yang seorang penulis kelas dunia dari begitu banyak buku-buku berpaham komunikasi. Baru-baru ini, sebuah pesan Whattsapp masuk ke ponsel Ave, dari pria yang suka berpeci hitam itu. “Ave, saya mau kirim buku kumpulan cerpen terbaru saya. Minta alamatnya.” Begitu bunyi pesannya. Dan alamat rumah saya berikan.

Cerpen? Buku kumpulan cerpen terbaru? Jujur, Ave belum lama-lama amat mengenal secara langsung Profesor yang bagi Ave cukup low profile itu. Semua orang-orang komunikasi, utamanya di Indonesia, mengenal dia banyak dari buku-buku komunikasi besutannya. Sebagai panduan, bahan referensi, perbandingan, dan macam-macam alasan. “Saya penasaran dengan isinya. Di prakata, Prof. Deddy Mulyana mengatakan, bahwa ini hasil penyaluran hobi lamanya yang tidak berpretensi sastra, saat dia mengisi waktu luang, di masa lalu, yang justru malah karya-karya awalnya", kata Ave

Penulis ilmiah di banyak media nasional itu blak-blakan menyebut karyanya ini kumpulan cerpen fiksi Islami. Berbanding terbalik dengan karya-karyanya yang biasa ‘menjerumuskan’ peminat bidang komunikasi semakin ‘dalam’ dengan konten ilmiah berbahasa popular dan santai.

Kontradiktif, mengernyitkan dahi. Ave geleng-geleng sambil sesekali tersenyum saat mulai membaca halaman-halaman awal dari kumpulan cerpen yang disebut fiksi Islami. Ini seriusan. Dia benar-benar menuliskannya. Seakan mengajak kita ke masa-masa mudanya yang penuh dengan pengalaman-pengalaman breathtaking (baca, memesona).

Tidak tanggung-tanggung, ada 22 cerita pendek fiksi Islami yang membuat kita ingin terus membaca dari satu cerpen, ke cerpen berikutnya. Ada cerminan realitas kehidupan, berbalut situasi kebatinan tentang pergulatan spiritual di sanubari setiap manusia. Bisa mencerminkan tentang kita, keluarga, teman, sekeliling, hal-hal terdekat dengan kita yang disambungkan menjadi tulisan penggugah oleh kelahiran 1958 itu.

Hidayah, Mencari Kedamaian, Bidadari Kerudung Biru, Hari yang Putih, Putri Mesir, Fatimah Suzuki, Gadis Sampul, Langit Makin Mendung, dan Sang Ustadzah. Kemudian; Jamilah Jackson, Azan Telah Memanggil, Khadijah Gonzales, Setelah Tujuh Lebaran, Lebaran di Marion, Sang Penyanyi, Berkurban di California, serta “Maafkan Aku, Mary!”.

Ditambah cerpen lainnya berjudul Rayuan sang Penelpon, Drama Kampung Dhuafa, “Pada Suatu Musim Semi”, Suatu Siang di Argo Parahyangan, dan Assalamualaikum Sakura San!, adalah perjalanan fiksi Islami dari kisah nyata pribadi-pribadi dengan berbagai latarbelakang dan kebangsaan dalam buku yang tergeletak di meja kerja saya saat menuliskan ini. Bagi Ave, ini sebuah ‘pelanggaran’ serius dari Prof Deddy Mulyana. ‘Pelanggaran’ yang manis. Yang kalau diteruskan, bisa jadi dia akan masuk dalam deretan penulis cerpen dan novelis lain yang masyhur di negeri ini.(***)

Lainnya :